Jejak Si Mata Biru di Pulau Kisar

Filed under: TRAVEL |
Bendera Merah Putih dari tembaga tertancap di pinggir Pantai Uhum, Desa Purpura, bagian utara Pulau Kisar, Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku. Kisar merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Bendera Merah Putih dari tembaga tertancap di pinggir Pantai Uhum, Desa Purpura, bagian utara Pulau Kisar, Kecamatan Pulau-pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku. Kisar merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

RATUSAN tahun mereka menjaga garis keturunannya. Bangga menjadi bangsa Indonesia, tetapi tak ingin lupa asal-usulnya. Merekalah yang tersisa dari jejak bangsa Eropa di Pulau Kisar, Maluku. 

Tak hanya nama, fisik Ana Siyane Lerrick (32) juga mirip bule. Bermata biru, tubuh tinggi, hidung mancung, kulit putih, dan rambut pirang terurai. Terlihat mencolok di antara penduduk lain di Pulau Kisar, Kecamatan Pulau- pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku, yang umumnya berkulit gelap, bermata hitam, dan berambut ikal.

Seperti bule lain yang tinggal di daerah tropis, kulit Ana sensitif terhadap sinar matahari. Saat terik, matanya cepat lelah dan silau. Bedanya, kulit Ana putih mulus tanpa totol-totol merah seperti bule umumnya.

”Keluarga kami keturunan orang Eropa yang dulu tinggal di Kisar,” tutur Ana di rumahnya, di Desa Kota Lama. Kisar adalah pulau kecil di utara ujung timur Pulau Timor. Wilayah Timor Leste terdekat dengan Kisar adalah Distrik Laut?ém dengan ibu kota Lospalos.

Ana adalah generasi ke-17 dari orang Eropa yang tinggal di Kisar. Konon, nenek moyang mereka adalah awak kapal yang terdampar di Pantai Kiasar, Kisar, awal abad ke-16.

Salah seorang sesepuh kaum Indo-Eropa Kisar, Ernst Manfred Belder (78), mengatakan, kebanyakan orang Eropa yang terdampar adalah tentara. Sebagian besar warga Belanda sisanya dari Jerman dan Inggris. Mereka lalu kawin-mawin dengan warga lokal atau bangsa Eropa lain dan menetap di Kisar.

Sumber lain tentang asal-usul orang Indo-Eropa di Kisar berasal dari buku Die Mestizen auf Kisar (Keturunan Indo-Eropa di Kisar) karya profesor antropologi Jerman, Ernst Rodenwaldt, tahun 1928. Tahun 1665, Kisar adalah bagian Provinsi Banda yang dikuasai Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC). Untuk mengukuhkan daerah kekuasaannya, VOC menempatkan tentara yang akhirnya menikah dengan warga asli Kisar.

Keturunan Indo-Eropa yang ada di Kisar berasal dari 12 marga, yaitu Joostensz, Wouthuysen, Caffin, Lerrick, Peelman, Lander, Ruff, Bellmin-Belder, Coenradi, Van Delsen, Schilling, dan Bakker. Sebagian marga masih ada keturunannya di Kisar, tapi sebagian lainnya punah.

Marga Bakker sejatinya adalah keturunan Raja Wonreli, Kisar, yang kawin dengan keturunan Eropa. Warga Indo-Eropa biasanya menyebut 11 marga keturunan Eropa, tanpa Bakker.

Walau orang keturunan Eropa bisa kawin dengan warga asli, sebagian sangat menganjurkan pernikahan dengan sesama keturunan Eropa. ”Persoalan kawin campur diatur ketat. Bahkan, pada generasi sebelumnya, keturunan Eropa hanya boleh kawin dengan keturunan Eropa lain,” ungkap Fransina Joostensz (54). Upaya menjaga kemurnian ras keluarga itu dilakukan meski mereka harus menikah dengan saudara dari satu kakek.

Hans Alvred Kaipatty (26), pria asli Ambon yang adalah suami Ana, mengakui sulitnya menjalin hubungan dengan Ana. Saat awal hubungan, tentangan orangtua Ana sangat kuat karena khawatir akan merusak kemurnian keturunan mereka.

Saat izin menjalin hubungan diperoleh, pacaran pun diatur ketat. Mereka hanya boleh bertemu di rumah, tidak bisa pergi ke luar rumah dengan bebas sebagaimana layaknya orang berpacaran. ”Setelah bertahun-tahun, hubungan kami direstui,” tutur Hans yang mengaku seperti mendapat durian runtuh berhasil mempersunting Ana. Pencatatan

Hubungan kekeluargaan dengan orang bermarga sama di Eropa tetap dijaga. Pendataan keturunan ”mata biru” itu dilakukan dengan rapi dalam buku silsilah keturunan Indo-Eropa. Agar masuk dalam buku itu, setiap keturunan Indo-Eropa akan diminta berfoto yang hasilnya dikirim ke Belanda.

Namun, tak semua keturunan bisa masuk ke dalam buku tersebut. Mereka harus memenuhi persyaratan tinggi hidung alias tingkat kemancungan, bentuk lubang hidung, panjang kuku, hingga warna mata. “Ciri yang paling jelas hidung dan mata. Kata orang sini, mata kucing,” ujar Ana.

Buku Die Mestizen auf Kisar juga memuat silsilah setiap marga dan data keturunan mereka yang memenuhi syarat. Tiga kakak ayah Ana ada dalam Die Mestizen auf Kisar, sedangkan ayah Ana yang lahir pada 1954 belum termuat. Ana yang difoto pada 1997 hingga kini belum tahu pemuatan foto dirinya dalam buku silsilah edisi berikutnya karena buku itu hanya ada di Belanda.

”Tidak ada keuntungan apa pun masuk di buku silsilah,” katanya. Tapi buku itu bisa digunakan untuk menjalin hubungan dengan seluruh keluarga di seluruh dunia.

Melebur dengan warga

Permukiman keturunan Indo-Eropa di Kisar berada di Desa Kota Lama, kawasan yang pada era VOC menjadi pusat pemerintahan. Walau secara fisik berbeda, mereka melebur dalam masyarakat Kisar. Akulturasi itu salah staunya tecermin dalam pernikahan orang Indo-Eropa yang mengenakan tenun kisar, sama seperti orang Kisar asli.

Pekerjaan orang Indo-Eropa pun sama seperti warga lainnya, mulai dari petani, pedagang, hingga birokrat. Warga Indo- Eropa Kisar yang merantau ke luar pulau, terutama ke Kupang, Surabaya, dan Jakarta umumnya menjadi tentara, polisi, atau birokrat.

”Kami ini 100 persen orang Kisar. Orang Indonesia. Kebetulan, nenek moyang kami dari Eropa,” ujar Ernst Manfred, yang anaknya menikah dengan penduduk lokal. Walau sudah kawin dengan warga lokal, nama marga Eropa tetap disematkan pada anak cucu sebagai penanda asal-usul nenek moyang mereka.

Fernando Richard Rupilu (32), tokoh pemuda Kisar, menyebut keturunan Indo-Eropa yang mengenalkan agama, sistem pendidikan, dan layanan kesehatan modern bagi warga Kisar. Namun, mereka juga meneruskan stratifikasi sosial yang dibangun Belanda sejak dulu dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat di Kisar hingga kini. Lepas dari kulit putih dan hidung mancung, ”si mata biru” dari Kisar tetap merasakan ketertinggalan yang sama dengan warga Kisar lainnya, pulau kecil di beranda selatan Nusantara.

Sumber : KOMPAS