Promosi Wisata di Dunia Maya Lebih Efektif

Filed under: NASIONAL,TRAVEL |
Anggota Komisi X DPR Anas Thahir (ist)

Anggota Komisi X DPR Anas Thahir (ist)

Jakarta, Berita77.com – Anggota Komisi X DPR Anas Thahir meminta pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) lebih banyak melakukan promosi pariwisata Indonesia melalui dunia maya (internet) dibandingkan dengan promosi di dunia nyata. ‎

Sebab, katanya, saat ini para traveler atau wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, apabila ingin berwisata lebih banyak mencari referensi di dunia maya dibandingkan melalui biro-biro perjalanan wisata.

Ditambah, promosi melalui dunia maya lebih mudah dan efektif. Sementara promosi melalui dunia nyata lebih banyak menghabiskan anggaran negara, seperti promosi wisata ke luar negeri. ‎

“Promosi di dunia maya efektif,” ujar Anas Thahir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/8/2017).

Daripada anggaran negara untuk pariwisata yang besar habis dipergunakan untuk promosi ke luar negeri agar dapat lebih banyak datangkan wisatawan mancanegara (wisman), kata Anas, lebih baik untuk pengembangan destinasi wisata.

“Mendingan untuk pengembangan destinasi wisata untuk datangkan wisman,” katanya.

Menurut politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, promosi yang dilakukan Kemenpar ke negara-negara Eropa melalui berbagai kegiatan tidak menguntungkan. Sebab, wisman yang paling banyak datang ke Indonesia berasal dari kawasan Asia, bukan Eropa.

“Pasar wisata kita paling banyak dari China, Asean, Singapura,” ungkapnya.

Anas menambahkan, jumlah kunjungan wisman pada tahun lalu mencapai 12 juta. Menurutnya, jumlah tersebut masih kecil bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Kroasia bisa datangkan 14 juta wisman dengan penduduk cuma 4 juta. Indonesia jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa hanya mampu datangkan 12 juta wisman,” jelasnya.

Sebab itu, tegas Anas, Kemenpar perlu melebih banyak mempromosikan pariwisata Indonesia melalui dunia maya. Meskipun saat ini Kemenpar sudah melakukan hal itu dengan mempromosikan pariwisata ke media-media massa.